Senin, 21 November 2016

Kisah Korban Selamat Tsunami Jepang: Ayah Ingin Aku Jadi...


Liputan6.com, Rikuzentakata - Awal bulan depan nanti, Takashi Tsuchiya akan mengenakan baju terbaiknya saat masuk perguruan tinggi. Pemuda itu bertekad mewujudkan janjinya untuk sukses di bidang akademik. Meski, itu sama sekali tak mudah.
Ia merasa sedih, sebab, orangtuanya tidak bisa hadir melihat anak laki-lakinya memulai kuliah teknik di sebuah universitas terbaik di Jepang. Ayah dan ibunya telah berpulang dalam salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Negeri Sakura: gempa dan tsunami 2011.
Lima tahun lalu, Takasih masih berusia 13 tahun. Ia dan kakak perempuannya, Naho (15) berangkat ke sekolah meninggalkan rumah mereka yang berada tak jauh dari jejeran hutan pinus di pinggir pantai, di kota Rikuzentakata. Itu terakhir kalinya ia melihat sang ayah, Yoshihiko dan ibunya Miki dalam kondisi hidup.
Orangtua mereka termasuk 19.000 korban gelombang raksasa tsunami yang menghantam pinggir pantai pada 11 Maret 2011. Dinding air itu meluluhlantakkan puluhan kota dan desa. Angka kerusakan mencapai 16,9 triliun yen atau sekitar US$150 miliar.
Rikuzentakata sendiri kehilangan 1.750 dari 24.000 penduduknya, seluruh kota porak poranda setelah ditelan gelombang setinggi 15 meter.
 Baca Juga

Jasad sang ayah, Yoshihiko ditemukan seminggu kemudian di gedung olahraga yang seharusnya menjadi tempat aman bagi para pencari selamat. Tiga hari kemudian, jenazah ibunya ditemukan tak jauh dari rumah mereka yang telah rata dengan tanah.
Naho dan Takashi masih beruntung. Mereka berlindung di sekolah mereka bersama ratusan penyintas yang ketakutan dan kedinginan. Di sana, mereka bertemu dengan teman dekat keluarga mereka, Kiwako Shimizu yang langsung menampung dan memberikan rumah sementara kepada kedua yatim piatu itu.
Naho menolak membicarakan orangtuanya untuk beberapa tahun, termasuk dengan saudara laki-lakinya.
"Untuk waktu yang lama, tak satupun dari kami berbicara tentang tsunami," ujar Takashi kepada Guardian, Jumat (11/3/2016). Takashi pun memilih tinggal bersama paman dan bibinya, setelah beberapa lama ditampung Shimzu. Lalu, ia memutuskan untuk tinggal di asrama sekolah.
"Aku juga jarang bertemu dengannya," lanjutnya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar