Senin, 28 November 2016

Daerah Terpencil Kurang 42 Ribu Tenaga Kesehatan

Daerah Terpencil Kurang 42 Ribu Tenaga Kesehatan
Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Djuwita F. Moeloek, menilai perlunya penambahan sekitar 42.000 tenaga kesehatan untuk disebar ke masing-masing daerah terpencil se-Indonesia.

"Tenaga kesehatan itu seperti dokter, perawat, sanitasi lingkungan, ahli gizi yang sangat minim untuk daerah pelosok, karena banyak lulusan kesehatan yang belum tertarik mengabdi ke daerah terpencil," ujarnya dalam kunjungan kerja di Kuta, Rabu (13/4/2016).

Menkes yang saat itu membuka lokakarya dan rapat kerja nasional Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), menjelaskan bahwa mereka yang mau ke daerah terpencil akan langsung diangkat menjadi pengawai negeri sipil (PNS).

"Itu untuk menggugah minat tenaga kesehatan guna mengabdi ke daerah pelosok dan puskesmas. Yang jelas, jumlah petugas kesehatan lingkungan masih sangat kurang dibandingkan dengan profesi kedokteran," ujarnya.

Ke depannya Nila, akan mencoba menjaring lulusan dari sekolah perguruan tinggi di Indonesia untuk ikut menjadi petugas sanitarian sukarela di daerah pelosok.

Untuk itu Nila meminta kepada HAKLI untuk mendata petugas kesehatannya agar ikut mengisi kekosongan petugas sanitarian (Kesling) didaerah pedalaman.

Pihaknya juga meminta kepada Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Perawat Indonesia, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia dan perhimpunan kesehatan lainnya untuk mendata kebutuhan tenaga kesehatan yang diperlukan di daerahnya.

"Upaya ini dilakukan, agar serapan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada mayarakat dapat berjalan optimal. Kita akan petakan dulu jumlah keseluruhan tenaga kesehatan ini sehingga dapat diketahui berapa kebutuhannya," katanya. (ANT) 

Palestina Bertemu dengan ICC Bahas Jalur Gaza

Palestina Bertemu dengan ICC Bahas Jalur Gaza
 Menteri Luar Negeri Palestina Riad Malki pada Senin, (21/3/2016), mengatakan bahwa para pejabat Palestina dan wakil dari Kantor Jaksa Mahkama Pidana Internasional (ICC) sedang menyelenggarakan serangkaian pertemuan di Amman, Yordania, terkait kejahatan di Jalur Gaza.

“Pertemuan tersebut akan berlangsung selama tiga hari, mulai Minggu dan melibatkan beberapa organisasi masyarakat sipil Palestina,” kata Malki.
Menurut pernyataan Riad, pertemuan itu akan membahas "kejahatan negara pelaku pendudukan seperti permukiman, penangkapan dan serangan yang terus berlangsung terhadap rakyat kami dan tanah di Jalur Gaza."

Ia mengatakan pertemuan tersebut difokuskan pada "temuan utama dan data mengenai praktek dan kebijakan Israel yang tersebar luas, sistematis dan tidak sah.”
Palestina yang berusaha mendirikan negara di Tepi Barat dan Jalur Gaza merasa khawatir akan perluasan permukiman Yahudi oleh Israel, dapat menggagalkan kelayakan negara mereka.
Di sisi lain, Israel menyatakan akan mempertahankan blok permukiman besar Yahudi dalam setiap kesepakatan perdamaian dengan Palestina. 

Untuk diketahui, Palestina bergabung ICC pada tanggal 26 Januari 2015, setelah Palestina secara resmi dinyatakan 
sebagai negara non - anggota di PBB pada 29 November 2012.

Sebelumnya, Otoritas Nasional Palestina telah mengajukan keluhan umum kepada ICC atas "kejahatan Israel" Juni
lalu, diikuti oleh nota terkait pembakaran sebuah rumah warga Palestina tahun lalu. Tiga orang termasuk 
balita tewas dalam serangan pembakaran tersebut.(ANT) 

Beramai-ramai Keluar dari Mahkamah Kriminal Internasional

Beramai-ramai Keluar dari Mahkamah Kriminal Internasional
Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) mengalami kemunduran yang cukup besar pada tahun ini. Terhitung sejak Oktober 2016, sebanyak empat negara berbondong-bondong menyatakan diri keluar dari ICC. Keempat negara itu adalah Burundi, Afrika Selatan, Gambia, dan terakhir, Rusia. 

Peristiwa ini patut menjadi perhatian karena sebelumnya tidak pernah ada negara yang secara resmi menyatakan diri keluar dari ICC. Di sisi lain, keluarnya keempat negara tersebut terjadi hanya dalam jangka waktu dua bulan saja.

Tren untuk keluar dari ICC dimulai oleh Burundi pada 18 Oktober 2016. Langkah Burundi diikuti oleh Afrika Selatan hanya sembilan hari kemudian pada 27 Oktober 2016. Selanjutnya, Gambia turut keluar pada 10 November 2016. Aksi “bedol desa” ini kemudian ditutup oleh Rusia pada 16 November 2016 lalu. 

Satu hal patut menjadi catatan : hanya tiga negara yang benar-benar keluar dari ICC yaitu Burundi, Afrika Selatan, dan Gambia. Rusia tidak bisa dikatakan keluar dari ICC mengingat mereka hanya menandatangani Statuta Roma—prinsip dasar yang melandasi pembentukan ICC—namun tidak meratifikasinya. Hal ini berarti bahwa keluarnya Rusia dari ICC hanyalah langkah simbolis tanpa mengandung konsekuensi hukum tertentu.

Berbeda dengan Rusia, ketiga negara Afrika tersebut telah meratifikasi Statuta Roma. Artinya, mereka telah memasukkan kaidah-kaidah hukum internasional dalam statuta tersebut ke dalam hukum positif di negaranya. Langkah ini mengandung konsekuensi yuridis yang menjadikan negara-negara itu terikat dengan Statuta Roma dan ICC. 

Keempat negara ini memiliki alasan yang hampir sama untuk keluar. Pertama, masing-masing negara ini tengah berada dalam penyelidikan ICC untuk berbagai kasus pelanggarahan hukum internasional dan hak asasi manusia yang terjadi di wilayahnya. Kedua, negara-negara ini menganggap bahwa ICC cenderung bersikap bias dan tidak netral dalam memproses kasus-kasus mereka. 

Protes atas Bias ICC
Langkah “bedol desa” dari ICC pertama kali diprakarsai oleh presiden Pierre Nkurunziza dari Burundi. Ia menandatangani sebuah dekrit pada 18 November 2016 untuk menyatakan bahwa Burundi secara resmi keluar dari ICC. Dekrit ini didahului oleh pemungutan suara di parlemen pada 12 Oktober 2016.

Seperti diberitakan Reuters, hanya ada 2 suara yang setuju Burundi bertahan di ICC, sementara 94 suara menyarankan keluar dan 14 suara abstain. 

Langkah Burundi ini diambil setelah ICC memulai penyelidikan pendahuluan terhadap pemerintah Burundi atas tindakan-tindakan melawan kemanusiaan seperti pembunuhan, penahanan paksa, penyiksaan, pemerkosaan dan kejahatan seksual, serta penghilangan paksa terhadap lawan-lawan politiknya. Kekerasan politik yang terjadi April lalu, menurut PBB, telah menewaskan 450 orang dan menyebabkan ribuan lainnya mengungsi. 
Kemarahan Burundi dipicu oleh tindakan PBB yang mengumumkan nama-nama pejabat mereka yang dituduh mendalangi penyiksaan dan pembunuhan. Di sisi lain, presiden Nkurunziza ikut dicurigai terlibat di dalamnya. 

Langkah PBB tersebut langsung dibalas oleh pemerintah Burundi. Mereka mengecam keras tindakan PBB tersebut sekaligus melarang tiga penyelidik PBB masuk ke wilayah Burundi. Puncaknya, Burundi memutuskan untuk keluar dari ICC. 

Keputusan Burundi segera diikuti oleh Afrika Selatan sembilan hari kemudian. Seperti diberitakan oleh Washington Post, keluarnya Afrika Selatan disebabkan oleh kedatangan presiden Sudan, Omar al-Bashir, ke negara itu pada Juni 2015. Bashir sendiri telah ditetapkan menjadi buronan akibat kejahatan perang oleh ICC pada 2009.

ICC meminta negara-negara Afrika, termasuk Afrika Selatan, untuk menahan Bashir begitu memasuki wilayah mereka. Namun, Afrika Selatan menolan mematuhi seruan ICC dan membiarkan Bashir berkunjung ke negaranya tanpa gangguan apapun.

“Tekanan-tekanan untuk menahan mereka yang dicurigai oleh ICC telah melukai komitmen mereka dalam mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan dialog di negara-negara tersebut,” kilah Michael Masutha, menteri hukum Afrika Selatan. 

Kejadian ini segera memicu kritik keras terhadap komitmen Afrika Selatan atas ICC. Terlebih lagi, ICC muncul sebagai salah satu pengejawantahan pemikiran pemimpin Afrika Selatan yang sangat disegani, Nelson Mandela. Serangan kritik inilah yang memicu Afrika Selatan untuk keluar. 

Pernyataan paling keras terhadap ICC muncul dari Gambia. Negara ini mengikuti jejak Burundi dan Afrika Selatan pada 10 November 2016 setelah ICC ikut menyinggung tentang catatan pelanggaran hak asasi manusia negara ini yang cukup panjang. Negara ini bahkan menyinggung sentimen ras dalam pernyataan resminya. 

“ICC sebenarnya adalah International Caucasian Court [Mahkamah Kaukasian Internasional] yang menghukum dan mempermalukan orang-orang kulit berwarna, khususnya dari Afrika,” sindir Menteri Informasi Sheriff Bojang kepada Washington Post. 

Sebelumnya, pada Juli 2016, pemerintah Gambia menahan pemimpin oposisi Ousainou Darboe dan 18 orang lainnya setelah ikut serta dalam demonstrasi tanpa izin. Sementara itu, pemimpin oposisi lainnya, Solo Sandeng, ditemukan tewas setelah dipukuli oleh pasukan keamanan Gambia pada April 2016.

Beramai-ramai Keluar dari Mahkamah Kriminal Internasional

Para Pembelot Demokrat
 Senyum bahagia tersungging di wajah Hasnaeni Moein saat menyambangi Rumah Lembang, Jakarta Pusat, Kamis, 24 November. Mengenakan baju dan kerudung putih, wanita kelahiran Makassar, 17 Juli 1976 itu menyatakan dukungannya terhadap pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat pada pemilihan gubernur (Pilgub) DKI 2017 mendatang.

Perempuan yang dikenal dengan julukan “Wanita Emas” itu beralasan, dirinya balik mendukung Ahok karena calon petahana tersebut telah banyak melakukan perubahan positif bagi masyarakat ibu kota. Salah satunya adalah penanganan banjir yang ia rasakan sendiri.

Karena itu, Hasnaeni akan mengerahkan simpatisannya untuk memilih Ahok menjadi gubernur kembali. Ia mengaku puas dengan sejumlah program Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta, khususnya terkait upaya Pemprov DKI mengatasi banjir dan menjadikan Jakarta bersih dari sampah. 

Seperti diketahui, sebelumnya, Hasnaeni berniat maju menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2017. Selama beberapa bulan, ia bahkan blusukan menemui warga ibu kota untuk meminta dukungan. Akan tetapi, niat si “Wanita Emas” tersebut pupus setelah tidak ada partai politik yang mengusungnya.

Ia gagal bersaing di bursa calon gubernur dan wakil gubernur DKI meskipun ia telah mengikuti konvensi yang diadakan sejumlah parpol, seperti PDIP dan Partai Demokrat. PDIP akhirnya mengusung pasangan Ahok-Djarot, sementara Demokrat sebagai kendaraan politik Hasnaeni saat maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2014 justru mengusung Agus Harimurti Yudhoyono, anak dari sang ketua umum partai, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kegagalan tersebut membuat ia kecewa pada Partai Demokrat yang dianggapnya sebagai partai dinasti. Apalagi ia sudah dua kali gagal menjadi kandidat pada Pilkada DKI Jakarta 2012 dan 2017. Ia mengaku dipermainkan oleh partai berlambang mercy itu karena perjuangan sepuluh tahun mempersiapkan diri sebagai calon, justru disepelekan oleh Demokrat dengan mengusung anak Yudhoyono.

“Saya merasa kecewa, petinggi Demokrat mengabaikan saya begitu saja,” ujarnya seperti dikutip Antara.

“Walaupun saya ini pengurus keset kaki, tapi peranan seseorang tidak boleh diabaikan,” kata Hasnaeni berkeluh kesah. Karena itu, Hasnaeni menyatakan diri keluar dari Partai Demokrat dan berencana mendirikan partai sendiri yang diberi nama Partai Emas.

Keputusan Hasnaeni meninggalkan Partai Demokrat menambah daftar panjang nama yang keluar maupun dipecat partai gara-gara perbedaan sikap dan pilihan politik pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Sebelumnya, Partai Demokrat juga telah kehilangan salah satu kader terbaiknya, yaitu Ruhut Sitompul dan Hayono Isman.

Keduanya menyatakan tidak setuju dengan calon yang diusung Demokrat pada Pilkada DKI. Masing-masing memiliki alasan berbeda, namun substansinya sama: tidak sepakat dengan kebijakan Demokrat yang mengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.  

Misalnya, Ruhut. Ia beralasan tidak ada kewajiban dirinya mendukung Agus Yudhoyono karena ia bukan kader partai, melainkan anak sulung dari Susilo Bambang Yudhoyono. Ruhut bahkan secara terang-terangan mendukung lawan politik Agus-Sylvi dan didapuk sebagai juru bicara pasangan Ahok-Djarot.

Partai Demokrat pun mengganjar Ruhut dengan pemecatan. Dewan Kehormatan Demokrat menilai pria kelahiran Medan, pada 24 Maret 1954 itu melanggar kode etik yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai serta Pakta Integritas. 

Nasib yang sama juga dialami Hayono Isman, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat. Hayono juga dipecat Demokrat karena berbeda sikap dan dukungan pada Pilgub DKI 2017. Ia beralasan, dirinya tidak mendukung pasangan yang diajukan Demokrat karena ia baru mengetahui pasangan Agus-Sylvi menjelang pendaftaran, padahal sebelumnya tidak ada pembicaraan kepada dirinya maupun jajaran partai terkait pengusungan Agus-Sylvi. Karena itu, Hayono merasa persiapan Demokrat dalam mengusung Agus-Sylvi belum cukup matang.

Menurut Hayono, masyarakat Jakarta membutuhkan pemimpin yang siap bekerja mengatasi kompleksnya permasalahan ibu kota.  Sebagai partai politik, seharusnya Demokrat ikut bertanggung jawab menghadirkan calon pemimpin bangsa yang profesional dan siap bekerja. Dari ketiga kandidat kepala daerah yang diusung saat ini, hanya pasangan petahana Ahok-Djarot yang memiliki persiapan matang untuk memimpin Jakarta.

Selain itu, Hayono juga mengkritisi sikap Partai Demokrat yang tidak menghargai perbedaan sikap politik dan memberikan sanksi pemecatan. Padahal, menurut Hayono, perbedaan pandangan seperti ini sebenarnya adalah hal biasa bagi Demokrat. Misalnya, pada Pilkada DKI 2012, ia juga menyatakan dukungan pada pasangan Jokowi-Ahok, padahal saat itu partai berlambang mercy itu mengusung pasangan Faiuzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Begitu juga pada Pilpres 2014 lalu. Saat itu, Hayono mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla, sementara Demokrat memilih netral, dan partai memberikan kebebasan bagi kader untuk mendukung salah satu kandidat. Karena itu, ia merasa heran, mengapa perbedaan sikap pada Pilkada 2017 justru dipersoalkan hingga berujung pada pemecatan.

Perbedaan politik yang berujung pada pilihan meninggalkan partai atau dipecat juga terjadi di partai lain. Misalnya, Boy Sadikin di PDIP. Satelah partai besutan Megawati memutuskan mengusung pasangan Ahok-Djarot, Boy Sadikin langsung mengundurkan diri sebagai kader partai.

Dalam surat pengunduran diri yang ditujukan pada Megawati, 21 September itu, Boy Sadikin menulis tiga alasan. Pertama, karena aspirasinya berbeda dengan keputusan partai. Kedua, perbedaan tersebut akan berakibat negatif pada keutuhan dan soliditas PDIP. Ketiga, Boy Sadikin tidak ingin menjadi beban bagi PDIP dan dapat secara bebas menyalurkan aspirasi kepada pihak lain yang berkesuaian dengan isi hati nurani dan keyakinannya.

Para Pembelot Demokrat

Ada 59 Negara yang Pernah Dipimpin oleh Perempuan

Ada 59 Negara yang Pernah Dipimpin oleh Perempuan
"Saya ingin hidup cukup lama untuk melihat pemilihan presiden perempuan pertama kami."

Harapan itu diungkapkan oleh Estelle Schultz (98) yang sedang dirawat di rumah sakit karena sakit jantung. Oktober lalu, Estelle melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Untuk pertama kali ia memilih seorang perempuan yang dicalonkan sebagai kandidat presiden. 

Saat mencoblos surat suara, ia meminta cucunya Sarah untuk memotretnya dan diunggah ke Facebook. Ia ingin mengabadikan momen langkah tersebut setelah menanti selama 96 tahun, sejak perempuan Amerika Serikat mendapat hak untuk memilih presiden pada tahun 1920.

Foto itu menarik perhatian publik dan dengan cepat langsung mendapat ratusan like dan juga komentar. Sarah serta keluarga kemudian terdorong untuk mencari tahu cerita serupa, penantian perempuan Amerika Serikat untuk melihat pemilihan presiden perempuan. Mereka membuat proyek "I Waited 96 Years" serta meluncurkan situs sesuai nama proyeknya. 

Pada hari pertama, situs itu sudah diisi oleh 31 perempuan berusia hampir 100 tahun kisah mirip Estelle. Ada Sylvia Schulman (99) yang mengaku memilih Hillary bukan karena ia adalah perempuan.

"Memberikan suara ini bukan hanya karena Hillary adalah seorang perempuan, juga bukan karena saya seorang Demokrat. Ini untuk menunjukkan bahwa kita sebagai perempuan bisa melakukan apapun yang kita inginkan, terutama ketika kita telah bekerja keras dalam karier kita untuk mendapatkan pengalaman yang diperlukan untuk bisa unggul,” ungkap Sylvia, seperti dipetik iwaited96years.com.

Pemilihan presiden Amerika Serikat saat ini memang memberi warna yang berbeda. Tak hanya persoalan Demokrat atau Republik, tetapi juga soal gender. Selama satu abad lebih, tak ada perempuan yang bisa sedekat ini menuju Gedung Putih. Jauh sebelumnya memang ada perempuan lainnya yaitu Victoria Woodhull. Ia dicalonkan sebagai calon presiden oleh Partai Persamaan Hak pada 1872. 

Namun partai itu tidak mendapat akses kertas suara, sehingga tidak ada suara yang tercatat untuk Woodhull. Ia juga didakwa atas beberapa kasus hukum sehingga ia menghabiskan malam pemilihan di penjara. Obituarinya The New York Times pada 1917 menyebutkan ia adalah satu-satunya perempuan yang pernah menjadi kandidat Presiden Amerika Serikat.

Tapi itu cerita di AS. Saat AS masih 'dikagetkan' dengan calon presiden perempuan, masyarakat Taiwan sudah terlebih dahulu membuat sejarah di awal tahun ini. Pesta demokrasi yang berlangsung pada Januari lalu di negeri itu menetapkan Tsai Ing Wen (59), pemimpin partai oposisi Partai Progresif Demokrat (DPP) menjadi presiden perempuan pertama. Ia resmi menjadi pemimpin negara itu setelah proses pelantikan pada Mei lalu.

Namun jauh sebelum Taiwan, Srilangka sudah memberi kesempatan kepada perempuan menjadi Perdana Menteri di negara itu. Ia adalah Sirimavo Bandaranaike yang mulai menjadi memimpin pada 1960 sekaligus menjadi perdana menteri perempuan pertama di dunia. Sirimavo yang juga Ketua Partai Kebebasan Srilangka menjabat hingga tiga periode. 

Jika Sirimavo adalah perdana menteri pertama, maka Isabel Peron adalah presiden perempuan pertama Argentina sekaligus di dunia. Tak sekali itu Argentina dipimpin perempuan. Perempuan berikutnya yang memimpin adalah Cristina Fernandez de Kirchner sejak 2007 hingga 2015.

Membalas Dendam dengan Air Keras

Membalas Dendam dengan Air Keras
Kulitnya putih mulus dengan tulang pipi tirus, hidungnya bulat lancip, bulu matanya lentik, dan alisnya tebal. Intan Novita (22), pemilik wajah itu, adalah gambaran mojang Bandung yang disebut Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff sebagai De Bloem der Indiche Bergsteden atau 'bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda'.

Tapi itu gambaran Intan dulu, sebelum ia ditimpa kemalangan Rabu pekan lalu (26/10/16). Seperti ditulisKompas.com, Intan saat itu sedang mengantar orangtuanya di Jalan Ciwastra, tiba-tiba saja dua orang tak dikenal berboncengan mengendarai motor menghentikan mobilnya yang kacanya dalam keadaan terbuka. 

Lalu, tiba-tiba Intan disiram cairan yang membuatnya kepanasan dan kesakitan. Badan dan sebagian wajahnya melepuh, mengalami luka bakar cukup parah akibat terkena cairan yang diperkirakan air keras. Sampai sekarang, polisi belum menemukan motif dan pelakunya.

Selain Intan, penyerangan air keras juga menimpa Iskandar (43) warga Seberang Ulu I Palembang. Dia mengalami luka bakar di bagian muka dan sekujur badannya setelah diguyur dengan air keras rekan seprofesinya DD yang bekerja sebagai tambal ban (17/10/16).

Seminggu sebelumnya, Eni Rosita (38), seorang peserta lomba lari lintas alam bertajuk MesaStile Peak Challenge 2016 di Magelang juga diserang dengan air keras. Warga Tangerang ini disiram orang tak dikenal saat melintasi rute di wilayah Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Sabtu (8/10/16) malam. Cairan itu mengenai punggung, tangan, muka dan kedua kakinya.

Skema serangan pada Iskandar dan Eni mirip dengan Intan. Pelaku naik motor berboncengan dan tiba-tiba menyiram saat korban lengah. Dalam kasus Iskandar, motifnya jelas dendam karena pelakunya sudah diketahui. Namun pada kasus Intan dan Eni, semuanya masih teka-teki karena pelaku pastinya belum tertangkap. Motifnya pun masih berupa spekulasi saja.

Penyerangan dengan air keras tak kenal usia, pelakunya bisa orang dewasa bisa pula remaja. Rahmad Rivai, seorang pelajar SMP di Kota Palembang awal September lalu disiram air keras oleh teman sekolahnya tanpa alasan jelas. Tiba-tiba teman satu kelasnya, MI menyiramkan air keras ke arah wajah Rahmad dari luar pagar sekolah, alhasil leher sebelah kiri Rahmad mengalami luka bakar cukup parah.

Pada 2013, nama Tompel alias RN mendadak populer, pelajar SMK Boedi Utomo ini jadi pelaku penyerangan membabi buta dengan air keras ke penumpang bus PPD 213 jurusan Kampung Melayu-Grogol. Akibat perbuatannya itu, 13 orang penumpang bus mengalami luka bakar. Empat di antaranya adalah pelajar SMK Kramat Raya, Jakpus.

Aksi nekat ini dilatarbelakangi oleh dendam. Tompel dulunya sempat disiram oleh pelajar SMA lain saat tawuran. “Enam bulan sebelumnya dia pernah disiram air keras oleh pelajar SMA, dia sendiri lupa siapa pelaku yang menyiramkan air keras kepadanya, sehingga dia menyasar korban secara acak," ucap Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur AKBP M Soleh seperti dikutip Antara, Minggu (6/10/13).

Membalas Dendam dengan Air Keras

Tak Ada Habisnya Pro Kontra Aborsi

Tak Ada Habisnya Pro Kontra Aborsi
 Sekelompok muda-mudi terlihat bergerombol di kawasan titik 0 Malioboro, Yogyakarta, pada malam 28 September 2012. Mereka yang menamakan diri Samsara Indonesia tak berniat sekadar nongkrong sebagaimana kebiasaan anak-anak muda Kota Pelajar lainnya. Mereka juga berangkat dari beragam latar belakang. Mulai dari feminis hingga seniman, ada laki-laki dan juga perempuan. Meski berbeda-beda, tapi tujuannya sama: menuntut akses aborsi aman dan legal di Indonesia. 

Titik 0 Malioboro sering menjadi tempat aksi damai dan sosialisasi beragam isu. Namun malam itu Samsara Indonesia berniat membawa isu yang sangat sensitif: aborsi. Mereka sengaja memilih tanggal 28 September untuk merayakan Hari Aksi Menuntut Akses Aborsi Aman dan Legal Internasional. 

Mereka aktif mendatangi muda-mudi lain yang sedang duduk-duduk di bangku dekat titik 0, menjawab pertanyaan mereka seputar aborsi dan berdiskusi seputar praktik yang diharamkan di Indonesia itu. Mereka juga menyebarkan pamflet berisi nomor telepon Samsara Indonesia yang bisa diakses bagi perempuan yang positif hamil namun belum siap mengandung dan melahirkan anaknya. 

Identitas si perempuan akan dijamin kerahasiaannya oleh Samsara Indonesia dan akan diberikan sejumlah opsi sebagai solusi. Bagi mereka, aborsi adalah pilihan. Apalagi jika si perempuan belum siap secara mental maupun finansial untuk menanggung hidup anaknya nanti, atau kehamilan justru berbahaya bagi si perempuan dan/atau si jabang bayi. Upaya bantuan itu tentu tanpa stigmatisasi yang justru mengkriminalisasi atau menghakimi si korban. 100 persen niat baik untuk menolong.

Sikap dan gerakan yang tercermin dari Samsara Indonesia dapat digolongkan sebagai kelompok pro-choice. Dalam dunia perdebatan seputar aborsi, alih-alih melarang, mereka memandang praktik tersebut adalah pilihan. Mengapa? Sebab bagi Samsara, sebagaimana isi kampanye mereka, tubuh adalah otoritas si perempuan. Dan dalam sebuah negara, hak atas aborsi yang legal dan aman sudah seharusnya mereka dapatkan. Malangnya, menurut mereka, perempuan di Indonesia belum mendapatkan hak tersebut. 

Peraturan tentang aborsi diatur dalam Undang-Undang tentang Kesehatan Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. Aborsi tidak diizinkan, kecuali dengan alasan kedaruratan medis ibu dan bayi serta bagi korban pemerkosaan. Sedangkan pada kenyataannya, sebagaimana argumen kelompok pro-choice, aborsi seharusnya bisa selalu menjadi pilihan meskipun perempuan yang berkaitan tak memenuhi dua syarat utama tersebut. Bisa saja, misal, si perempuan memang belum memiliki kesiapan secara fisik, psikis, secara finansial untuk merawat anaknya. 

Sayang suara mereka sangat minoritas di Indonesia. Dalam riset Pew Research tahun 2014, 89% responden asal Indonesia menyatakan tak setuju dengan aborsi. Golongan ini bisa disebut sebagai oposisi dari kelompok pro-choice, yakni kelompok pro-life. Samsara dan pihak yang menjunjung tinggi asas pro-choice masuk dalam golongan 1% di Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara lain, rasio ini tergolong sangat njomplang.

Di Chili, menurut hasil riset yang sama, responden yang tak sepakat dengan praktik aborsi masih tinggi, namun berhenti di angka 65 persen. Indonesia mirip Uganda yang responden pro-life-nya mencapai lebih dari 80 persen. Sedangkan rasio yang lebih seimbang ditemukan di Amerika Serikat dengan 56 persen adalah pro-choice dan 41 persennya pro-life. Bahkan ada negara yang memiliki masyarakat pro-choice lebih banyak. Inggris contohnya, yang golongan pro-choice-nya mencapai 62 persen.

Di Indonesia, aborsi lekat dengan pembunuhan. Argumen yang sama sering dipakai oleh kelompok pro-life di seluruh penjuru dunia untuk menyerang kelompok pro-choice. Menariknya, menurut sejumlah riset, kubu pro-life kebanyakan dihuni oleh orang-orang agamis dan konservatif. Kondisi ini sangat tergambar di AS, dimana kedua kelompok yang terbelah merepresentasikan dominasi orang-orang konservatif di kubu pro-life dan orang-orang liberal di kubu pro-choice. Orang-orang Republikan di kubupro-life dan Demokrat di kubu pro-choice.

Dualisme dan pertentangan antara kedua kubu itu tersaji dengan baik dalam sebuah film dokumenter berjudul Lake of Fire (2006). Mereka bertemu di masing-masing kampanye dan aksi damai, beradu argumen tentang aborsi dari segi hukum, moralitas, sampai agama. Mulai dari isu sejak kapan sebuah janin dinyatakan sebagai entitas hidup, stigmatisasi kepada pelaku aborsi, perbincangan soal otoritas tubuh, sampai dorongan agar undang-undang lebih pro ke masing-masing kubu. 

Kondisinya cukup adil, seimbang, dan dalam asas menghormati pendapat kubu lawan. Sesuatu yang hampir tak ditemukan di Indonesia di mana sebagaian besar masyarakatnya didominasi oleh kubu pro-life. Tak hanya didukung oleh kekuatan hukum, namun secara kultur rata-rata orang Indonesia juga menganggap aborsi sebagai praktik keji dan patut dihindari. 

LIPI - Swiss Teliti Penanganan Singkong Pascapanen

LIPI - Swiss Teliti Penanganan Singkong Pascapanen
Bekerja sama dengan Pemerintah Swiss, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian dalam penanganan masalah singkong atau ubi kayu pascapanen. 

"Singkong merupakan sumber makanan dan sumber bahan baku industri bahkan energi potensial yang kita miliki, persoalan yang dihadapi adalah singkong mudah membusuk sehingga risiko kehilangan pascapanen cukup tinggi," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Enny Sudarmonowati di sela diskusi tentang singkong di Cibinong Science Center Kabupaten Bogor Jawa Barat, Kamis (21/7/2016).

Ia mengatakan Pemerintah Swiss melalui ETH Zurich yakni perguruan tinggi berbasis teknologi ternama di Swiss tertarik untuk bekerja sama melakukan penelitian dalam rangka mengatasi masalah pascapanen singkong di Indonesia.

“Melalui kerja sama ini, Swiss menawarkan bioteknologi yang dapat memutus percepatan pembusukan singkong sehingga memiliki daya tahan lebih lama dari biasanya,” ungkap Enny.

Tingkat produksi singkong saat ini memang terus meningkat. Indonesia menrupakan urutan terbesar ketiga di dunia penghasil singkong setelah Nigeria dan Thailand.

"Data statistik FAO 2013 Indonesia diperkirakan berpotensi lebih besar dari Thailand menjadi produsen singkong," katanya.

Ia menyebutkan tingginya kerusakan singkong pascapanen merupakan akibat dari rendahnya daya tahan akar terhadap kerusakan setelah tanaman dicabut dari tanah.

Kerusakan fisiologi atau Post-harvest Physiological Deterioration (PPD) terjadi di Nigeria sebagai produsen singkong terbesar dunia. Sebanyak 40 persen singkong pascapanen Nigeria telah hilang akibat pembusukan PPD.

"LIPI dan ETH Zurich bekerja sama mendeteksi PPD pada singkong, yang tujuannya untuk menemukan solusi menghambat PPD pada singkong pascapanen," katanya.

Duta Besar Switzerland untuk Indonesia Yvonne Baumann mengatakan Indonesia negara produsen singkong besar di dunia. Pihaknya tertarik untuk bekerja sama agar permasalahan singkong pascapanen dapat diatasi.

"Swiss berperan mendorong ketahanan pangan dunia [dan] mewujudkan target SDGs. Kami tertarik membantu pengembangan singkong dapat mengatasi masalah kelaparan di dunia," katanya.

Ia mengatakan banyak negara-negara miskin seperti Afrika mengalami kelaparan. Mereka termasuk negara yang mengkonsumsi singkong.

"Dengan mendorong perkembangan produksi singkong, serta teknologi pascapanen, kita dapat mewujudkan ketahanan pangan dunia," katanya.

Yvonne menambahkan kerja sama penelitian dengan Indonesia diharapkan dapat dikembangkan dan hasil penelitian dapat disebarluaskan ke negara luas sehingga ketahanan pangan dunia dapat terwujud. 

LIPI Resmikan Inkubator Teknologi Cerdas Bagi Teknoprener

LIPI Resmikan Inkubator Teknologi Cerdas Bagi Teknoprener
 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meresmikan Inkubator Teknologi Cerdas, di Kampus LIPI, Jl. Cisitu, Bandung, Senin (28/11/2016). Inkubator teknologi bernama (INTeC-LIPI) atau Smart Technology Incubator (STI) ini rencananya akan memberikan layanan dalam mengkonversi hasil-hasil riset menjadi bisnis dari lingkungan LIPI oleh para wirausaha-wirausaha muda (Teknoprener). Selain itu juga memberikan layanan kepada calon-calon teknoprener dengan inovasi teknologi dari sumber-sumber lainnya di dalam dan luar negeri.

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bambang Subiyanto dalam rilisnya, Senin (28/11/2016) mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam difusi teknologi atau hilirisasi teknologi ini adalah faktor sumber daya manusia. 

“Diperlukan wadah yang menyediakan layanan dalam pendirian dan pengelolaan perusahaan-perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) bagi mahasiswa, lulusan perguruan tinggi, inventor independen, dan para pemuda yang memiliki temuan dan ide bisnis inovatif untuk ditransformasikan menjadi bisnis berdaya saing tinggi,“ jelas Bambang.

Bambang menyoroti pasokan Sumber Daya Manusia (SDM) dari berbagai perguruan tinggi di satu pihak dan ketersediaan berbagai teknologi hasil riset dari LIPI dan berbagai lembaga riset lainnya di pihak lain. Dengan layanan jasa inkubasi teknologi akan dapat menghasilkan teknoprener-teknoprener berdaya saing di Jawa Barat dan kota Bandung pada khususnya. 

“Pembelajaran menjadi teknoprener hanya diperoleh melalui secara langsung menciptakan dan/atau mengelola suatu usaha, bukan dalam kelas, “imbuh Bambang.

Sementara Kepala Pusat Inovasi LIPI, Nurul Taufiqu Rochman menambahkan, INTeC-LIPI merupakan pengembangan Inkubator Teknologi LIPI di Cibinong Science and Technology Park (C-STP) LIPI di Cibinong yang telah beroperasi sejak tahun 2013. 

“Jasa inkubasi teknologi yang diberikan mencakup penyediaan layanan pendampingan teknis dan bisnis, penyediaan pembiayaan awal (seed funding), penyediaan ruang kantor, dan fasilitasi akses pemasaran dan pengetahuan lainnya kepada tenan-tenan yang direkrut melalui proses seleksi yang ketat, “tutur Nurul.

Sementara itu menurut Nurul, INTeC LIPI Bandung akan terus dikembangkan sehingga dapat memberikan layanan kepada lebih signifikan lagi bagi anak-anak muda brilian di kota Bandung pada khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. “Dengan berkembangnya inkubator teknologi di kota Bandung akan semakin mendorong terciptanya pengusaha-pengusaha pemula berbasis teknologi (PPBT) dan menjadi salah satu pilar ekonomi yang penting di Provinsi ini, “pungkas Nurul.

iPhone 8 akan Hadir dengan Pengisi Daya Nirkabel

iPhone 8 akan Hadir dengan Pengisi Daya Nirkabel
 Ponsel pintar iPhone 8 dikabarkan akan hadir dengan teknologi wireless charging, yakni pengisian daya nirkabel, demikian informasi menurut spekulan produk Apple, Ming-Chi Kuo dari KGI Securities melaporkan. 

Namun, sebagaiman diberitakan Antara, Kamis (24/11/2016) iPhone termurah tidak akan memberikan wireless charger dalam kotaknya. Bundel itu hanya disiapkan untuk pemesan kelas atas.

Diketahui bahwa lini iPhone 8 akan hadir dengan bagian belakang kaca, yang mendukung wireless charging dan dapat memperkecil gangguan frekuensi. Dengan begitu, Apple diharapkan dapat mengadopsi pengisian daya nirkabel pada 2018.

Sebelumnya, analis KGI mengatakan tiga model iPhone 8 diperkirakan keluar tahun depan, dua di antaranya merupakan penerus iPhone 7 dan iPhone 7 plus.

“Varian ketiga, yang juga termahal, akan memakai layar sentuh dual-curved AMOLED, berukuran 5.8 inchi,” papar analis tersebut.

Pegatron dikabarkan akan menjadi satu-satunya pemasok wireless charger untuk iPhone generasi mendatang. Sementara itu, Foxconn yang akan membuat AMOLED. 

Ilmuwan Inggris Kembangkan USB Pendeteksi HIV

Ilmuwan Inggris Kembangkan USB Pendeteksi HIV
Usaha dunia medis untuk melawan Human Immunodeficiency Virus (HIV) penyebab penyakit AIDS baru-baru ini mengalami kemajuan yang berarti. Ilmuwan asal Imperial College London tengah mengembangkan cara baru menguji keberadaan HIV dengan memakai perangkat USB. Alat itu diklaim dapat mendeteksi keberadaan virus tersebut dalam darah manusia dengan cepat dan cermat.

Bekerjasama dengan perusahaan Amerika Serikat, DNA Electronics, para peneliti memprogram alat tersebut agar pasien bisa memantau kadar virus dalam darah. Kemudahan ini nantinya serupa dengan milik penderita diabetes yang dapat memantau kadar gula dalam darah mereka.

"Faktor penting pengobatan HIV adalah mengawasi kadar virus dalam darah. Saat ini, proses uji virus membutuhkan biaya mahal dan peralatan rumit sehingga membutuhkan waktu cukup lama," jelas Graham Cooke, salah satu ketua peneliti dari program studi kedokteran Imperial College London. 

Dengan adanya alat ini, kebutuhan-kebutuhan proses pengujian yang cukup merepotkan itu dapat disederhanakan. "Kami dapat menyelesaikan masalah itu dengan alat ini. Awalnya perangkat ini berukuran sebesar mesin fotokopi, tetapi kami memadatkannya hingga sekecil USB," katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (11/11/2016).

Peralatan tambahan yang dibutuhkan alat ini saat menguji HIV hanyalah gawai, bisa berupa komputer, tablet, maupun ponsel pintar. Cara kerjanya, satu tetes darah akan dijatuhkan ke bagian tertentu pada USB. HIV dalam sampel darah akan memicu perubahan tingkat keasaman menjadi sinyal listrik. Lalu, sinyal tersebut diteruskan ke USB sehingga hasilnya terlihat di komputer atau gawai.

Untuk mematangkan cara kerja tersebut, para peneliti berkali-kali melakukan uji coba. Hasilnya, seperti yang diterbitkan di jurnal Scientific Report, 95 persen uji HIV dari 991 sampel darah menggunakan alat tersebut terbukti cermat. Rata-rata waktu uji HIV yang dibutuhkan berkisar di angka 20,8 menit.

Alat ini nantinya akan sangat berguna bagi masyarakat di wilayah terpencil, karena penderita dapat mengatur waktu dan cara pengobatannya dengan lebih efektif. Pasalnya, uji kadar HIV secara konvensional masih membutuhkan waktu paling tidak tiga hari, termasuk pengiriman sampel darah sampai menemukan hasil akhirnya di laboratorium. 

Afrika Selatan Lakukan Uji Coba Vaksin HIV

Afrika Selatan Lakukan Uji Coba Vaksin HIV
Studi vaksin HIV pertama yang akan berlangsung tujuh tahun di Afrika Selatan telah diujicoba pada Senin (28/11/2016). Uji coba bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif vaksin HIV dapat memberikan perlindungan terhadap virus AIDS,

Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (National Institutes of Health/NIH) menyampaikan penelitian yang disebut HVTN 702 itu ditujukan terhadap 5.400 pria dan perempuan berusia 18 sampai 35 tahun yang aktif secara seksual. Dengan jumlah peserta sebesar itu, uji klinik vaksin HIV ini menjadi paling besar dan canggih yang berlangsung di Afrika Selatan, negara dengan lebih dari 1.000 orang terinfeksi HIV setiap hari. 

"Jika dikerahkan bersama perangkat senjata terkini kami yang sudah terbukti bisa mencegah HIV, vaksin yang aman dan efektif bisa menjadi paku terakhir pada peti mati HIV," kata Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID) yang merupakan bagian NIH, dan penyelenggara uji klinik tersebut.

"Bahkan vaksin yang secara moderat efektif akan secara signifikan menurunkan beban penyakit HIV dari waktu ke waktu di negara-negara dan populasi dengan tingkat infeksi HIV tinggi seperti Afrika Selatan."

Rejimen vaksin eksperimental yang diuji dalam HVTN 702 didasarkan pada vaksin yang diteliti dalam uji klinik RV144 di Thailand, menunjukkan bahwa vaksin bekerja efektif sebesar 31,2 persen untuk mencegah infeksi selama 3,5 tahun lebih setelah vaksinasi.

Rejimen vaksin baru sudah disesuaikan dengan subtipe HIV yang menonjol di bagian selatan Afrika dan uji klinik awal kecil yang melibatkan 252 orang menunjukkan bahwa itu aman untuk peserta studi dan imbasnya pada respons kekebalan sebanding dengan yang dilaporkan pada RV144.

Uji klinik baru yang dilaksanakan di 15 lokasi di seluruh Afrika Selatan ditujukan untuk menguji apakah vaksin itu akan memberikan perlindungan lebih besar dan berkelanjutan dibandingkan dengan rejimen RV144.

Para relawan akan secara acak diberi rejimen vaksin yang masih dalam penelitian itu atau plasebo. Seluruh peserta akan mendapat total lima suntikan selama satu tahun dan hasilnya akan diketahui akhir 2020.

"HIV sudah merenggut banyak kematian di Afrika Selatan, tapi sekarang kami memulai eksplorasi ilmiah yang bisa sangat menjanjikan bagi negara kita," kata Kepala Protokol HVTN 702 Glenda Gray, presiden dan pemimpin eksekutif Dewan Riset Medis Afrika Selatan.

"Jika vaksin HIV berhasil di Afrika Selatan, itu akan secara dramatis mengubah haluan pandemi," katanya sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.