jessica valencia kelas 9 smp bodhisattva
Senin, 20 Februari 2017
Senin, 13 Februari 2017
Rio Haryanto berada mobil MRT05 sebelum tes di sirkuit Catalunya, Spanyol, Rabu (24/2). Antara foto/reuters/sergio pere/pras/16
Pertamina mampu mencetak rekor laba di tengah jatuhnya harga minyak. Namun, bukan berarti Pertamina kini sudah bersiap bertempur di pasar global. Banyak hal yang masih harus dibenahi Pertamina, terutama soal kekuatan brand.
tirto.id - Pertamina berhasil mencetak laba sebesar $3,14 miliar (unaudited) pada tahun 2016. Ini merupakan laba terbesar sejak era reformasi dan mengalahkan laba terbesar sebelumnya di tahun 2013 yang tercatat sebesar $3,07 miliar. Hal yang menarik dari capaian laba Pertamina 2016 adalah diraih saat harga minyak dunia masih rendah pada kisaran $50 per barel, dibandingkan laba tahun 2013 yang dicapai saat harga minyak dunia berada di atas $ 100 per barel.
Dengan capaian tersebut, maka pada 2016, untuk pertama kalinya Pertamina menduduki peringkat 3 dunia perusahaan migas yang memiliki keuntungan terbesar di bawah Shell dan Total S.A.
Meski demikian, capaian Pertamina itu masih jauh dari visinya untuk menjadi “World Class Energy Company”. Yang masih harus dilakukan saat ini adalah membangun reputasi Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia. Ini penting mengingat saat ini, brand Pertamina masih kalah jauh, bahkan oleh sesama BUMN.
Menurut brand paling berharga di Indonesia tahun 2016 versi Statista, Telkom berada di posisi puncak dengan nilai brand $2,62 miliar. Disusul Sampoerna di posisi kedua dengan nilai brand $2,066 miliar. Selebihnya, BUMN yang masuk dalam 10 besar hanya Mandiri ($1,834 miliar), BRI ($1,587 miliar), BNI ($822 juta), dan Garuda Indonesia ($632 juta).
Bandingkan dengan Petronas yang merupakan brand paling berharga di Malaysia. Menurut Statista, Petronas merupakan brand paling berharga di Malaysia dengan nilai brand mencapai $10,02 miliar.
Output dari kilang yang selain produk BBM, ada juga pelumas, aspal dan lainnya. Tentu saja produk tersebut tidak hanya akan dijual di dalam negeri, tetapi juga pasar internasional. Tanpa brand yang kuat, akan sulit bagi Pertamina untuk bisa menembus pasar global.
Membangun reputasi dunia sangat penting, karena seiring dengan selesainya seluruh mega proyek pada tahun 2024, Pertamina akan kelebihan solar yang tidak semua terserap di dalam negeri. Begitu pula produksi base lube oil sebagah bahan baku minyak pelumas akan melimpah. Pasar ekspor tentu menjadi tujuan dari pemasarannya.
Produk BBM Pertamina pada tahun 2024 yang semuanya sudah berstandar Euro 5 mestinya tidak akan sulit mendapatkan pasar di negara maju, termasuk Australia dan Selandia Baru yang diprediksi membutuhkan BBM jenis solar dalam jumlah besar. Tanpa brand yang kuat, akan sulit bagi Pertamina untuk mengambil pangsa pasar global yang sudah dikuasai pemain kelas dunia.
Dengan capaian tersebut, maka pada 2016, untuk pertama kalinya Pertamina menduduki peringkat 3 dunia perusahaan migas yang memiliki keuntungan terbesar di bawah Shell dan Total S.A.
Meski demikian, capaian Pertamina itu masih jauh dari visinya untuk menjadi “World Class Energy Company”. Yang masih harus dilakukan saat ini adalah membangun reputasi Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia. Ini penting mengingat saat ini, brand Pertamina masih kalah jauh, bahkan oleh sesama BUMN.
Menurut brand paling berharga di Indonesia tahun 2016 versi Statista, Telkom berada di posisi puncak dengan nilai brand $2,62 miliar. Disusul Sampoerna di posisi kedua dengan nilai brand $2,066 miliar. Selebihnya, BUMN yang masuk dalam 10 besar hanya Mandiri ($1,834 miliar), BRI ($1,587 miliar), BNI ($822 juta), dan Garuda Indonesia ($632 juta).
Bandingkan dengan Petronas yang merupakan brand paling berharga di Malaysia. Menurut Statista, Petronas merupakan brand paling berharga di Malaysia dengan nilai brand mencapai $10,02 miliar.
Pentingnya Membangun Brand
Membangun brand merupakan hal yang sangat penting bagi Pertamina. Apalagi, BUMN ini sedang gencar membangun megaproyek Pertamina meliputi kilang baru di Tuban dan Bontang, upgrade kilang di Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Dumai. Proyek-proyek tersebut kelak akan menjadikan Pertamina sebagai salah satu perusahaan yang memiliki kilang minyak terbesar di dunia dengan kapasitas 2 juta barel.Output dari kilang yang selain produk BBM, ada juga pelumas, aspal dan lainnya. Tentu saja produk tersebut tidak hanya akan dijual di dalam negeri, tetapi juga pasar internasional. Tanpa brand yang kuat, akan sulit bagi Pertamina untuk bisa menembus pasar global.
Membangun reputasi dunia sangat penting, karena seiring dengan selesainya seluruh mega proyek pada tahun 2024, Pertamina akan kelebihan solar yang tidak semua terserap di dalam negeri. Begitu pula produksi base lube oil sebagah bahan baku minyak pelumas akan melimpah. Pasar ekspor tentu menjadi tujuan dari pemasarannya.
Produk BBM Pertamina pada tahun 2024 yang semuanya sudah berstandar Euro 5 mestinya tidak akan sulit mendapatkan pasar di negara maju, termasuk Australia dan Selandia Baru yang diprediksi membutuhkan BBM jenis solar dalam jumlah besar. Tanpa brand yang kuat, akan sulit bagi Pertamina untuk mengambil pangsa pasar global yang sudah dikuasai pemain kelas dunia.
Perjalanan Samsung menjadi raksasa di industri elektronik dunia tidaklah semulus sutra. Mengawalinya bisnisnya dari usaha ekspor sayuran, buah dan ikan, perusahaan itu akhirnya bahkan mendahului para pesaingnya, termasuk Sony, target awal yang ingin mereka lampaui.
tirto.id - Siapa yang tidak mengenal Samsung? Perusahaan tersebut saat ini merupakan produsen smartphone terbesar di dunia. Meski demikian, siapa yang menyangka jika semuanya berawal dari usaha berjualan buah, sayur dan ikan kering yang dirintis oleh pendirinya, Lee Byung-Chul di Taegu, timur laut Korea.
Pada tahun 1937, akibat pecahnya perang antara Cina dengan Jepang, Byung-chul, yang saat itu sesungguhnya telah memiliki bisnis kecil penggilingan padi dan transportasi di Masan, pantai tenggara semenanjung Korea, terpaksa memindahkan bisnisnya ke Taegu, sebuah daerah di timur laut. Dari sanalah legenda Samsung dimulai.
Di kota yang merupakan pusat pemimpin politik dan rezim militer tinggal tersebut, Byung-chul mendirikan toko perdagangan serba ada (general store) dengan modal awal 30.000 won. Mengambil nama Samsung, yang berarti bintang tiga, ia menginginkan agar toko ini menjadi perusahaan besar, kuat dan bertahan lama seperti bintang di angkasa.
Memanfaatkan situasi perang, Samsung mengekspor buah dan makanan laut yang dikeringkan, sayuran, dan barang dagangan lainnya ke Mancuria di timur laut Cina daratan, yang pada saat itu juga merupakan koloni Jepang, serta Beijing.
Dalam buku berjudul "Samsung, Media Empire and Family: A Power Web" yang ditulis oleh Chunhyo Kim, Byung-chul memperoleh modal awal untuk mendirikan Samsung selain dari keluarganya, juga dari sebuah bank Jepang. Hal itu menunjukkan kepiawaian berbisnis Byung-chul, sebab saat itu toko perdagangan tidak mempunyai akses terhadap dana serupa.
Pada masa Perang Dunia II, Byung-chul belajar banyak mengenai pasar dan memanfaatkan peluang bisnis. Ia memperhatikan dengan cermat bagaimana konglomerat Jepang, yang sering disebut sebagaizaibatsu, menjalankan dan mengorganisasi perusahaan-perusahaan mereka di Korea.
Tidak butuh waktu lama bagi Samsung untuk berkembang. Dalam kurun waktu satu dekade lebih sedikit, Samsung memiliki pabrik tepung, mesin manisan sendiri, kegiatan operasi manufaktur dan penjualannya sendiri.
Pada masa administrasi militer Amerika Serikat di Negara Ginseng itu antara tahun 1945 hingga 1948, Byung-chul memindahkan kantor pusat bisnisnya ke Seoul. Ia kemudian membuka Samsung Trading Corporation pada tahun 1948. Selang dua tahun kemudian, Samsung telah mendirikan perusahaan dagang di Masan, Taegu dan Seoul.
Meski sempat bangkrut, karena mendapat dukungan politik dari rezim Presiden Syngman Rhee pada tahun 1946 hingga 1960, perusahaan itu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat.
Perusahaan itu, misalnya, berhasil mengembangkan bisnisnya ke sektor perbankan, sekuritas, asuransi, pupuk dan semen pada akhir tahun 1950. Pada tahun 1951, Samsung Moolsan (cikal bakal Samsung Corporation) berdiri. Perusahaan itu melakukan ekspor impor barang-barang militer, gula dan pupuk semasa Perang Korea.
Sempat tersandung kasus bahan baku ilegal yang menjerat Hankuk Fertilizer yang didirikan Samsung tahun 1963, Byung-chul kemudian mengundurkan diri sebagai Chairman Samsung pada tahun 1967.
Dua tahun berselang ia kembali menjadi Chairman Samsung dan mendirikan Samsung Electronics, yang kemudian menjelma menjadi pemain global yang sangat diperhitungkan saat ini.
Pada tahun 1937, akibat pecahnya perang antara Cina dengan Jepang, Byung-chul, yang saat itu sesungguhnya telah memiliki bisnis kecil penggilingan padi dan transportasi di Masan, pantai tenggara semenanjung Korea, terpaksa memindahkan bisnisnya ke Taegu, sebuah daerah di timur laut. Dari sanalah legenda Samsung dimulai.
Di kota yang merupakan pusat pemimpin politik dan rezim militer tinggal tersebut, Byung-chul mendirikan toko perdagangan serba ada (general store) dengan modal awal 30.000 won. Mengambil nama Samsung, yang berarti bintang tiga, ia menginginkan agar toko ini menjadi perusahaan besar, kuat dan bertahan lama seperti bintang di angkasa.
Memanfaatkan situasi perang, Samsung mengekspor buah dan makanan laut yang dikeringkan, sayuran, dan barang dagangan lainnya ke Mancuria di timur laut Cina daratan, yang pada saat itu juga merupakan koloni Jepang, serta Beijing.
Dalam buku berjudul "Samsung, Media Empire and Family: A Power Web" yang ditulis oleh Chunhyo Kim, Byung-chul memperoleh modal awal untuk mendirikan Samsung selain dari keluarganya, juga dari sebuah bank Jepang. Hal itu menunjukkan kepiawaian berbisnis Byung-chul, sebab saat itu toko perdagangan tidak mempunyai akses terhadap dana serupa.
Pada masa Perang Dunia II, Byung-chul belajar banyak mengenai pasar dan memanfaatkan peluang bisnis. Ia memperhatikan dengan cermat bagaimana konglomerat Jepang, yang sering disebut sebagaizaibatsu, menjalankan dan mengorganisasi perusahaan-perusahaan mereka di Korea.
Tidak butuh waktu lama bagi Samsung untuk berkembang. Dalam kurun waktu satu dekade lebih sedikit, Samsung memiliki pabrik tepung, mesin manisan sendiri, kegiatan operasi manufaktur dan penjualannya sendiri.
Pada masa administrasi militer Amerika Serikat di Negara Ginseng itu antara tahun 1945 hingga 1948, Byung-chul memindahkan kantor pusat bisnisnya ke Seoul. Ia kemudian membuka Samsung Trading Corporation pada tahun 1948. Selang dua tahun kemudian, Samsung telah mendirikan perusahaan dagang di Masan, Taegu dan Seoul.
Meski sempat bangkrut, karena mendapat dukungan politik dari rezim Presiden Syngman Rhee pada tahun 1946 hingga 1960, perusahaan itu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat.
Perusahaan itu, misalnya, berhasil mengembangkan bisnisnya ke sektor perbankan, sekuritas, asuransi, pupuk dan semen pada akhir tahun 1950. Pada tahun 1951, Samsung Moolsan (cikal bakal Samsung Corporation) berdiri. Perusahaan itu melakukan ekspor impor barang-barang militer, gula dan pupuk semasa Perang Korea.
Sempat tersandung kasus bahan baku ilegal yang menjerat Hankuk Fertilizer yang didirikan Samsung tahun 1963, Byung-chul kemudian mengundurkan diri sebagai Chairman Samsung pada tahun 1967.
Dua tahun berselang ia kembali menjadi Chairman Samsung dan mendirikan Samsung Electronics, yang kemudian menjelma menjadi pemain global yang sangat diperhitungkan saat ini.
Senin, 30 Januari 2017
Senin, 16 Januari 2017
Senin, 09 Januari 2017
Link Download
https://drive.google.com/file/d/0B9RRU3XPGlirY3lWR2RmNUNUeDg/view?usp=sharing
https://drive.google.com/file/d/0B9RRU3XPGlirUklmTnpoaFRCTGs/view?usp=sharing
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlird2JrNDRuWTZiQTQ
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirV1RuR21Hb2pxMXM
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirTGlrVGgyVGRVc28
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirVF9OUU9oM0N4YUE
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirbU9KcV8wYVpnd0E
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirNUstME5sWXpJemc
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirSS1Jem1ETTEwc0k
https://drive.google.com/open?id=0B9RRU3XPGlirY0J5RVZ3UGFHVjQ
Senin, 28 November 2016
Daerah Terpencil Kurang 42 Ribu Tenaga Kesehatan
Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Djuwita F. Moeloek, menilai perlunya penambahan sekitar 42.000 tenaga kesehatan untuk disebar ke masing-masing daerah terpencil se-Indonesia.
"Tenaga kesehatan itu seperti dokter, perawat, sanitasi lingkungan, ahli gizi yang sangat minim untuk daerah pelosok, karena banyak lulusan kesehatan yang belum tertarik mengabdi ke daerah terpencil," ujarnya dalam kunjungan kerja di Kuta, Rabu (13/4/2016).
Menkes yang saat itu membuka lokakarya dan rapat kerja nasional Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), menjelaskan bahwa mereka yang mau ke daerah terpencil akan langsung diangkat menjadi pengawai negeri sipil (PNS).
"Itu untuk menggugah minat tenaga kesehatan guna mengabdi ke daerah pelosok dan puskesmas. Yang jelas, jumlah petugas kesehatan lingkungan masih sangat kurang dibandingkan dengan profesi kedokteran," ujarnya.
Ke depannya Nila, akan mencoba menjaring lulusan dari sekolah perguruan tinggi di Indonesia untuk ikut menjadi petugas sanitarian sukarela di daerah pelosok.
Untuk itu Nila meminta kepada HAKLI untuk mendata petugas kesehatannya agar ikut mengisi kekosongan petugas sanitarian (Kesling) didaerah pedalaman.
Pihaknya juga meminta kepada Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Perawat Indonesia, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia dan perhimpunan kesehatan lainnya untuk mendata kebutuhan tenaga kesehatan yang diperlukan di daerahnya.
"Upaya ini dilakukan, agar serapan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada mayarakat dapat berjalan optimal. Kita akan petakan dulu jumlah keseluruhan tenaga kesehatan ini sehingga dapat diketahui berapa kebutuhannya," katanya. (ANT)
"Tenaga kesehatan itu seperti dokter, perawat, sanitasi lingkungan, ahli gizi yang sangat minim untuk daerah pelosok, karena banyak lulusan kesehatan yang belum tertarik mengabdi ke daerah terpencil," ujarnya dalam kunjungan kerja di Kuta, Rabu (13/4/2016).
Menkes yang saat itu membuka lokakarya dan rapat kerja nasional Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), menjelaskan bahwa mereka yang mau ke daerah terpencil akan langsung diangkat menjadi pengawai negeri sipil (PNS).
"Itu untuk menggugah minat tenaga kesehatan guna mengabdi ke daerah pelosok dan puskesmas. Yang jelas, jumlah petugas kesehatan lingkungan masih sangat kurang dibandingkan dengan profesi kedokteran," ujarnya.
Ke depannya Nila, akan mencoba menjaring lulusan dari sekolah perguruan tinggi di Indonesia untuk ikut menjadi petugas sanitarian sukarela di daerah pelosok.
Untuk itu Nila meminta kepada HAKLI untuk mendata petugas kesehatannya agar ikut mengisi kekosongan petugas sanitarian (Kesling) didaerah pedalaman.
Pihaknya juga meminta kepada Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Perawat Indonesia, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia dan perhimpunan kesehatan lainnya untuk mendata kebutuhan tenaga kesehatan yang diperlukan di daerahnya.
"Upaya ini dilakukan, agar serapan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada mayarakat dapat berjalan optimal. Kita akan petakan dulu jumlah keseluruhan tenaga kesehatan ini sehingga dapat diketahui berapa kebutuhannya," katanya. (ANT)
Langganan:
Postingan (Atom)