Senin, 13 Februari 2017

Pertamina yang Masih Terseok Membangun Brand GlobalRio Haryanto berada mobil MRT05 sebelum tes di sirkuit Catalunya, Spanyol, Rabu (24/2). Antara foto/reuters/sergio pere/pras/16



Pertamina mampu mencetak rekor laba di tengah jatuhnya harga minyak. Namun, bukan berarti Pertamina kini sudah bersiap bertempur di pasar global. Banyak hal yang masih harus dibenahi Pertamina, terutama soal kekuatan brand.
tirto.id - Pertamina berhasil mencetak laba sebesar $3,14 miliar (unaudited) pada tahun 2016. Ini merupakan laba terbesar sejak era reformasi dan mengalahkan laba terbesar sebelumnya di tahun 2013 yang tercatat sebesar $3,07 miliar. Hal yang menarik dari capaian laba Pertamina 2016 adalah diraih saat harga minyak dunia masih rendah pada kisaran $50 per barel, dibandingkan laba tahun 2013 yang dicapai saat harga minyak dunia berada di atas $ 100 per barel. 

Dengan capaian tersebut, maka pada 2016, untuk pertama kalinya Pertamina menduduki peringkat 3 dunia perusahaan migas yang memiliki keuntungan terbesar di bawah Shell dan Total S.A.

Meski demikian, capaian Pertamina itu masih jauh dari visinya untuk menjadi “World Class Energy Company”. Yang masih harus dilakukan saat ini adalah membangun reputasi Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia. Ini penting mengingat saat ini, brand Pertamina masih kalah jauh, bahkan oleh sesama BUMN.

Menurut brand paling berharga di Indonesia tahun 2016 versi Statista, Telkom berada di posisi puncak dengan nilai brand $2,62 miliar. Disusul Sampoerna di posisi kedua dengan nilai brand $2,066 miliar. Selebihnya, BUMN yang masuk dalam 10 besar hanya Mandiri ($1,834 miliar), BRI ($1,587 miliar), BNI ($822 juta), dan Garuda Indonesia ($632 juta).

Bandingkan dengan Petronas yang merupakan brand paling berharga di Malaysia. Menurut Statista, Petronas merupakan brand paling berharga di Malaysia dengan nilai brand mencapai $10,02 miliar. 

Pentingnya Membangun Brand

Membangun brand merupakan hal yang sangat penting bagi Pertamina. Apalagi, BUMN ini sedang gencar membangun megaproyek Pertamina meliputi kilang baru di Tuban dan Bontang, upgrade kilang di Cilacap, Balikpapan, Balongan dan Dumai. Proyek-proyek tersebut kelak akan menjadikan Pertamina sebagai salah satu perusahaan yang memiliki kilang minyak terbesar di dunia dengan kapasitas 2 juta barel. 

Output dari kilang yang selain produk BBM, ada juga pelumas, aspal dan lainnya. Tentu saja produk tersebut tidak hanya akan dijual di dalam negeri, tetapi juga pasar internasional. Tanpa brand yang kuat, akan sulit bagi Pertamina untuk bisa menembus pasar global.

Membangun reputasi dunia sangat penting, karena seiring dengan selesainya seluruh mega proyek pada tahun 2024, Pertamina akan kelebihan solar yang tidak semua terserap di dalam negeri. Begitu pula produksi base lube oil sebagah bahan baku minyak pelumas akan melimpah. Pasar ekspor tentu menjadi tujuan dari pemasarannya. 

Produk BBM Pertamina pada tahun 2024 yang semuanya sudah berstandar Euro 5 mestinya tidak akan sulit mendapatkan pasar di negara maju, termasuk Australia dan Selandia Baru yang diprediksi membutuhkan BBM jenis solar dalam jumlah besar. Tanpa brand yang kuat, akan sulit bagi Pertamina untuk mengambil pangsa pasar global yang sudah dikuasai pemain kelas dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar