Senin, 28 November 2016

Ada 59 Negara yang Pernah Dipimpin oleh Perempuan

Ada 59 Negara yang Pernah Dipimpin oleh Perempuan
"Saya ingin hidup cukup lama untuk melihat pemilihan presiden perempuan pertama kami."

Harapan itu diungkapkan oleh Estelle Schultz (98) yang sedang dirawat di rumah sakit karena sakit jantung. Oktober lalu, Estelle melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Untuk pertama kali ia memilih seorang perempuan yang dicalonkan sebagai kandidat presiden. 

Saat mencoblos surat suara, ia meminta cucunya Sarah untuk memotretnya dan diunggah ke Facebook. Ia ingin mengabadikan momen langkah tersebut setelah menanti selama 96 tahun, sejak perempuan Amerika Serikat mendapat hak untuk memilih presiden pada tahun 1920.

Foto itu menarik perhatian publik dan dengan cepat langsung mendapat ratusan like dan juga komentar. Sarah serta keluarga kemudian terdorong untuk mencari tahu cerita serupa, penantian perempuan Amerika Serikat untuk melihat pemilihan presiden perempuan. Mereka membuat proyek "I Waited 96 Years" serta meluncurkan situs sesuai nama proyeknya. 

Pada hari pertama, situs itu sudah diisi oleh 31 perempuan berusia hampir 100 tahun kisah mirip Estelle. Ada Sylvia Schulman (99) yang mengaku memilih Hillary bukan karena ia adalah perempuan.

"Memberikan suara ini bukan hanya karena Hillary adalah seorang perempuan, juga bukan karena saya seorang Demokrat. Ini untuk menunjukkan bahwa kita sebagai perempuan bisa melakukan apapun yang kita inginkan, terutama ketika kita telah bekerja keras dalam karier kita untuk mendapatkan pengalaman yang diperlukan untuk bisa unggul,” ungkap Sylvia, seperti dipetik iwaited96years.com.

Pemilihan presiden Amerika Serikat saat ini memang memberi warna yang berbeda. Tak hanya persoalan Demokrat atau Republik, tetapi juga soal gender. Selama satu abad lebih, tak ada perempuan yang bisa sedekat ini menuju Gedung Putih. Jauh sebelumnya memang ada perempuan lainnya yaitu Victoria Woodhull. Ia dicalonkan sebagai calon presiden oleh Partai Persamaan Hak pada 1872. 

Namun partai itu tidak mendapat akses kertas suara, sehingga tidak ada suara yang tercatat untuk Woodhull. Ia juga didakwa atas beberapa kasus hukum sehingga ia menghabiskan malam pemilihan di penjara. Obituarinya The New York Times pada 1917 menyebutkan ia adalah satu-satunya perempuan yang pernah menjadi kandidat Presiden Amerika Serikat.

Tapi itu cerita di AS. Saat AS masih 'dikagetkan' dengan calon presiden perempuan, masyarakat Taiwan sudah terlebih dahulu membuat sejarah di awal tahun ini. Pesta demokrasi yang berlangsung pada Januari lalu di negeri itu menetapkan Tsai Ing Wen (59), pemimpin partai oposisi Partai Progresif Demokrat (DPP) menjadi presiden perempuan pertama. Ia resmi menjadi pemimpin negara itu setelah proses pelantikan pada Mei lalu.

Namun jauh sebelum Taiwan, Srilangka sudah memberi kesempatan kepada perempuan menjadi Perdana Menteri di negara itu. Ia adalah Sirimavo Bandaranaike yang mulai menjadi memimpin pada 1960 sekaligus menjadi perdana menteri perempuan pertama di dunia. Sirimavo yang juga Ketua Partai Kebebasan Srilangka menjabat hingga tiga periode. 

Jika Sirimavo adalah perdana menteri pertama, maka Isabel Peron adalah presiden perempuan pertama Argentina sekaligus di dunia. Tak sekali itu Argentina dipimpin perempuan. Perempuan berikutnya yang memimpin adalah Cristina Fernandez de Kirchner sejak 2007 hingga 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar